PENGUJIAN STRUKTUR BETON DENGAN METODE HAMMER TES

August 3, 2011 in PENGUJIAN STRUKTUR BETON DENGAN METODE HAMMER TES | Comments (0)

METODE HAMMER TEST
UMUM
Hammer test yaitu suatu alat pemeriksaan mutu beton tanpa merusak
beton. Disamping itu dengan menggunakan metode ini akan diperoleh cukup
banyak data dalam waktu yang relatif singkat dengan biaya yang murah.
Metode pengujian ini dilakukan dengan memberikan beban intact
(tumbukan) pada permukaan beton dengan menggunakan suatu massa yang
diaktifkan dengan menggunakan energi yang besarnya tertentu. Jarak pantulan
yang timbul dari massa tersebut pada saat terjadi tumbukan dengan permukaan
beton benda uji dapat memberikan indikasi kekerasan juga setelah dikalibrasi,
dapat memberikan pengujian ini adalah jenis “Hammer”. Alat ini sangat berguna
untuk mengetahui keseragaman material beton pada struktur. Karena
kesederhanaannya, pengujian dengan menggunakan alat ini sangat cepat,
sehingga dapat mencakup area pengujian yang luas dalam waktu yang singkat.
Alat ini sangat peka terhadap variasi yang ada pada permukaan beton, misalnya
keberadaan partikel batu pada bagian-bagian tertentu dekat permukaan.
Oleh karena itu, diperlukan pengambilan beberapa kali pengukuran
disekitar setiap lokasi pengukuran, yang hasilnya kemudian dirata-ratakan
British Standards (BS) mengisyaratkan pengambilan antara 9 sampai 25 kali
pengukuran untuk setiap daerah pengujian seluas maksimum 300 mm2.
Secara umum alat ini bisa digunakan untuk:
– Memeriksa keseragaman kwalitas beton pada struktur.
– Mendapatkan perkiraan kuat tekan beton.
2. SPESIFIKASI
Spesifikasi mengenai penggunaan alat ini bisa dilihat pada BS4408 pt. 4 atau
ASTM G80S-89.
a. Kelebihan dan kekurangan “Hammer test”.
Kelebihan :
– Murah
– Pengukuran bisa dilakukan dengan cepat
– Praktis (mudah digunakan).
– Tidak merusak
Kekurangan :
– Hasil pengujian dipengaruhi oleh kerataan permukaan, kelembaban beton, sifatsifat dan jenis agregat kasar, derajad karbonisasi dan umur beton. Oleh karena
itu perlu diingat bahwa beton yang akan diuji haruslah dari jenis dan kondisi
yang sama.
– Sulit mengkalibrasi hasil pengujian.
– Tingkat keandalannya rendah.
– Hanya memberikan imformasi mengenai karakteristik beton pada permukaan © 2003 Digitized by USU digital library  5
b. Kalibrasi.
Seperti yang disebutkan sebelumnya, banyak sekali variabel yang
berpengaruh terhadap hasil pengukuran dengan menggunakan peralatan
hammer. Oleh karena itu sangat sulit untuk mendapatkan diagram kalibrasi yang
bersifat umum yang dapat menghubungkan parameter tegangan beton sebagai
fungsi dari pada jumlah skala pemantulan hammer dan dapat diaplikasikan untuk
sembarang beton.
Jadi dengan kata lain diagram kalibrasi sebaiknya berbeda untuk setiap
jenis campuran beton yang berbeda. Oleh karena itu setiap jenis beton yang
berbeda, perlu diturunkan diagram kalibrasi tersebut perlu dilakukan pengujian
tekan sample hasil coring untuk setiap jenis beton yang berbeda dari struktur
yang sedang ditinjau. Hasil uji coring tersebut kemudian dijadikan sebagai
konstanta untuk mengkalibrasikan bacaan yang didapat dari peralatan hammer
tersebut.
Perlu diberi catatan disini bahwa penggunaan diagram kalibrasi yang
dibuat oleh produsen alat uji hammer sebagainya dihindarkan, karena diagram
kalibrasi tersebut diturunkan atas dasar pengujian beton dengan jenis dan ukuran
agregat tertentu, bentuk benda uji yang tertentu dan kondisii test yang tertentu.
II. 3. PERSIAPAN DAN TATA CARA PENGUJIAN.
II. 3. 1. Persiapan.
a. Menyusun rencana jadwal pengujian, mempersiapkan peralatan-peralatan
serta perlengkapan-perlengkapan yang diperlukan.
b.  Mencari data dan informasi termasuk diantaranya data tentang letak detail
konstruksi, tata ruang dan mutu bahan konstruksi selama pelaksanaan
bangunan berlangsung.
c.   Menentukan titik test.
d.  Titik test untuk kolom diambil sebanyak 5 (lima) titik, masing-masing titik test
terdiri dari 8 (delapan) titik tembak, untuk balok diambil sebanyak 3 (tiga)
titik test masing-masing titik terdiri dari 5 (lima) titik tembak sedang pelat
lantai diambil sebanyak 5 (lima) titik test masing-masing terdiri dari 5 (lima)
titik tembak.
II. 3. 2. Tata Cara Pengujian.
a.  Sentuhan ujung plunger yang terdapat pada ujung alat hammer test pada
titik-titik yang akan ditembak dengan memegang hammer sedemikian rupa
dengan arah tegak lurus atau miring bidang permukaan beton yang akan
ditest.
b. Plunger ditekan secara periahan-lahan pada titik tembak dengan tetap
menjaga kestabilan arah dari alat hammer. Pada saat ujung plunger akan
lenyap masuk kesarangnya akan terjadi tembakan oleh plunger terhadap
beton, dan tekan tombol yang terdapat dekat pangkal hammer.
c. Lakukan pengetesan terhadap masing-masing titik tembak yang telah
ditetapkan semula dengan cara yang sama.
d.  Tarik garis vertikal dari nilai pantul yang dibaca pada grafik 1 yaitu hubungan
antara nilai pantul dengan kekuatan tekan beton yang terdapat pada alat
hammer sehingga memotong kurva yang sesuai dengan sudut tembak
hammer.
e. Besar kekuatan tekan beton yang ditest dapat dibaca pada sumbu vertikal
yaitu hasil perpotongan garis horizontal dengan sumbu vertikal.
Oleh karena itu mutu beton yang dinyatakan dengan kekuatan karakteristik α bk
didasarkan atas kekuatan tekan beton yang diperoleh pada saat pengetesan
dilaksanakan perlu dikonversi menjadi kekuatan tekan beton umur 28 hari.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1388/1/sipil-mawardi.pdf

         

Did you like this? Share it:

Leave a Reply


UMM